KalimantanInsight.com — Krisis ekonomi di Iran memasuki fase paling genting dalam sejarah modern negara tersebut. Nilai tukar rial Iran dilaporkan anjlok ke level terendah sepanjang sejarah, diperdagangkan di kisaran 1.400.000 rial per dolar Amerika Serikat, memicu runtuhnya daya beli masyarakat dan kelumpuhan aktivitas ekonomi nasional.
Tekanan ekonomi yang kian memburuk ini dipicu oleh kombinasi inflasi kronis di atas 40 persen, konflik geopolitik berkepanjangan, serta pengetatan kembali sanksi internasional yang membatasi akses Iran ke sistem keuangan global. Kondisi tersebut menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak tajam, sementara pendapatan riil masyarakat merosot drastis.
Situasi ekonomi yang memburuk dengan cepat itu memicu gelombang demonstrasi besar sejak akhir Desember 2025. Awalnya, aksi massa hanya menuntut bantuan ekonomi, stabilisasi harga, serta perbaikan kesejahteraan. Namun dalam perkembangannya, demonstrasi berubah menjadi seruan politik yang lebih luas, termasuk tuntutan untuk menggulingkan rezim yang dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei.
Di tengah eskalasi protes dan meningkatnya tekanan publik, pemerintah Iran mengambil langkah drastis dengan memutus aliran listrik, layanan telepon, serta akses internet secara nasional. Kebijakan ini dinilai sebagai upaya untuk menghambat koordinasi massa dan membatasi arus informasi keluar dari Iran ke komunitas internasional.
Namun, langkah tersebut justru memperparah kondisi ekonomi di lapangan. Banyak toko dan pusat usaha terpaksa tutup total akibat pemadaman listrik dan lumpuhnya sistem komunikasi. Distribusi barang terganggu, transaksi keuangan terhambat, dan sektor informal yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat kecil praktis berhenti beroperasi.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pendapatan riil masyarakat kini hanya tersisa sekitar seperempat dibandingkan periode sebelum krisis. Bagi sebagian warga, kebutuhan dasar seperti pangan, obat-obatan, dan energi kini menjadi barang mewah yang sulit dijangkau.
Pengamat internasional menilai situasi ini sebagai salah satu titik balik paling krusial dalam sejarah ekonomi dan politik Iran. Krisis yang awalnya bersifat ekonomi kini berkembang menjadi krisis legitimasi kekuasaan, dengan risiko instabilitas nasional yang semakin besar apabila tidak segera ditangani melalui solusi struktural dan dialog politik yang inklusif.
Hingga kini, belum ada kejelasan berapa lama pemadaman listrik dan internet nasional akan berlangsung. Sementara itu, masyarakat Iran harus menghadapi ketidakpastian masa depan di tengah tekanan ekonomi, pembatasan informasi, dan meningkatnya ketegangan politik di dalam negeri.
