KalimantanInsight.com – Samarinda.
Pembangunan di Kalimantan Timur terus bergerak cepat, terutama setelah penetapan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pusat pemerintahan baru Indonesia. Arus urbanisasi, perubahan pola kehidirupan, lonjakan aktivitas ekonomi, serta dinamika sosial yang mengikutinya membawa peluang—namun juga tantangan besar bagi struktur keluarga.
Dalam konteks inilah, sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga yang digelar di Jalan Kemuning, Kelurahan Loa Bakung, pada Sabtu 6 Desember 2025, mendapat perhatian luas masyarakat. Ratusan warga memadati tenda kegiatan untuk mendengar langsung pemaparan dari anggota DPRD Kaltim, H. Fuad Fakhruddin, S.Pd.I., M.M, bersama dua narasumber: Ir. Addy Suyatno dan Jainudin.
Keluarga sebagai Pilar Sosial di Tengah Transformasi Kalimantan
Dalam paparannya, H. Fuad Fakhruddin menegaskan bahwa peningkatan pembangunan fisik dan ekonomi tidak akan berjalan seimbang tanpa pembangunan sosial yang memadai—dan keluarga berada di pusatnya.
“Ketahanan keluarga adalah fondasi semua pembangunan. Ketika keluarga goyah, masyarakat akan rentan. Dan ketika masyarakat rentan, tidak ada percepatan pembangunan yang mampu berdiri stabil,” ujar H. Fuad Fakhruddin.
Beliau menyoroti perubahan gaya hidup masyarakat, meningkatnya tekanan ekonomi, penetrasi budaya digital, serta melemahnya komunikasi antar-generasi sebagai faktor-faktor yang membuat keluarga modern perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Perda ini, jelasnya, disusun untuk memberi pedoman menyeluruh terkait pembinaan keluarga mulai dari aspek moral, spiritual, pendidikan, ekonomi hingga perlindungan anak dan perempuan.

Dinamika Keluarga Modern: Tantangan yang Tak Terhindarkan
Narasumber pertama, Ir. Addy Suyatno, membuka pemahaman bahwa keluarga di era modern menghadapi tantangan multi-dimensi. Menurutnya, keluarga saat ini tidak hanya mengurusi persoalan internal, tetapi juga harus mampu menghadapi serangan distraksi eksternal:
- budaya instan dari media digital,
- perubahan lingkungan sosial yang cepat,
- makin tingginya mobilitas penduduk,
- tekanan kompetisi bagi generasi muda,
- hingga meningkatnya potensi konflik rumah tangga akibat stres kolektif.
Addy menyebut bahwa daerah seperti Kalimantan Timur yang sedang bertumbuh pesat perlu memberi perhatian dua kali lebih besar terhadap kebijakan keluarga karena efek pembangunan yang begitu intens.
“Keluarga yang kuat adalah prasyarat bagi daerah yang berkembang. Tidak ada pembangunan besar yang bisa kokoh tanpa kesiapan struktur sosialnya,” jelasnya.
Implementasi Perda di Tingkat Akar Rumput: Tantangan Struktural dan Kultural
Narasumber kedua, Jainudin, memaparkan realitas implementasi kebijakan di lapangan. Ia menekankan bahwa keberhasilan Perda tidak cukup dengan sosialisasi dan pengesahan formal—melainkan memerlukan keterlibatan aktif pemerintah kelurahan, organisasi masyarakat, tokoh agama, dan keluarga itu sendiri.
Ia menguraikan beberapa tantangan:
- masih minimnya literasi keluarga terkait Perda,
- perbedaan tingkat pendidikan masyarakat,
- keterbatasan fasilitas pembinaan keluarga,
- serta belum meratanya kegiatan pendampingan sosial di wilayah padat penduduk.
Menurutnya, Perda ini harus dijalankan secara adaptif sesuai karakter masing-masing kawasan, terutama kawasan urban seperti Loa Bakung yang memiliki dinamika sosial tinggi.
Suara dari Masyarakat: Kegelisahan dan Harapan Baru
Sesi dialog memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki kecemasan nyata mengenai stabilitas keluarga. Banyak peserta yang mengangkat isu-isu seperti:
- meningkatnya kecanduan gawai pada anak,
- kesulitan komunikasi antara orang tua-anak,
- tekanan ekonomi pascapandemi,
- ketakutan terhadap pengaruh pergaulan bebas,
- dan persoalan moral generasi remaja urban.
Warga berharap agar pemerintah lebih sering menghadirkan forum edukasi seperti ini, karena kegiatan ini memberi mereka ruang untuk memahami, berdialog, dan menemukan solusi.
Ketahanan Keluarga dalam Lanskap Pembangunan Kalimantan
Liputan KalimantanInsight.com menilai bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda formal penyebarluasan Perda, tetapi simbol pentingnya pembangunan sosial di tengah percepatan transformasi wilayah Kalimantan Timur.
Dalam konteks pemerataan pembangunan, ketahanan keluarga menjadi instrumen:
- menjaga stabilitas sosial di kawasan urban baru,
- meminimalkan konflik sosial akibat tekanan ekonomi,
- memperkuat moralitas lokal di tengah globalisasi budaya,
- serta menyiapkan generasi muda agar kompetitif di era IKN.
Perubahan besar menuntut fondasi sosial yang besar pula.
Penutup: Menyelamatkan Masa Depan Lewat Penguatan Keluarga
Menutup kegiatan, H. Fuad Fakhruddin, S.Pd.I., M.M menegaskan bahwa ketahanan keluarga bukan hanya urusan satu sektor, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Kita sedang membangun masa depan Kaltim, dan masa depan itu dimulai dari ruang-ruang keluarga. Jika keluarga kuat, masyarakat kuat. Dan jika masyarakat kuat, Kalimantan akan menjadi pusat kemajuan Indonesia di masa depan,” tutupnya.
Sosialisasi ini ditutup dengan pembagian materi resmi dan sesi foto bersama, menandai komitmen bersama antara pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjaga kekuatan keluarga sebagai tiang utama peradaban Kalimantan.
