KalimantanInsight.com — Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Gelombang bencana hidrometeorologi menghantam tiga provinsi sekaligus—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—dalam periode waktu yang sangat singkat. Hujan ekstrem yang turun hampir tanpa henti memicu banjir bandang, longsor, angin kencang, hingga puting beliung, menjadikan wilayah Sumatera bagian utara dan barat dalam kondisi darurat.
Laporan terbaru yang diterima KalimantanInsight.com menyebutkan bahwa sedikitnya 24 orang meninggal dunia, puluhan luka-luka, dan ribuan warga kini berada dalam kondisi terisolasi. Fasilitas publik lumpuh, jembatan putus, serta akses darat tertutup material longsor.
Sumatera Utara: 86 Kejadian Bencana dalam 72 Jam — “Ini di Luar Prediksi”
Sumatera Utara menjadi provinsi dengan jumlah kejadian terbesar. Dalam tiga hari, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 86 bencana, terdiri atas:
59 longsor
21 banjir
4 pohon tumbang
4 puting beliung

Korban jiwa mencapai 24 orang, sementara 5 warga masih hilang dan dalam proses pencarian. Sebagian besar akses jalan menuju daerah terdampak lumpuh total akibat material longsor.
“Kondisi medan sangat sulit, beberapa wilayah benar-benar terputus,” ujar salah satu petugas SAR yang bertugas di Langkat.
Sumatera Barat Tetapkan Status Tanggap Darurat hingga 8 Desember
Di Sumatera Barat, banjir dan longsor melanda 13 kabupaten/kota. Pemerintah provinsi langsung menetapkan status tanggap darurat hingga 8 Desember 2025 setelah banjir merendam permukiman, memutus akses desa, dan menghancurkan lahan pertanian.
Warga di sejumlah nagari melaporkan bahwa air datang secara tiba-tiba pada malam hari, membuat banyak keluarga tidak sempat menyelamatkan harta benda.

Aceh: 46.893 Jiwa Terdampak, 1.500 Mengungsi — 4 Jembatan Putus
Aceh menjadi wilayah terparah secara sebaran populasi terdampak. Laporan resmi mencatat:
46.893 warga terdampak
1.500 lebih warga mengungsi
11 kecamatan di Aceh Timur terendam
4 jembatan terputus dan 20 titik jalan tertimbun longsor
Sejumlah rumah adat Aceh dan bangunan bersejarah turut terendam. Evakuasi masih berlangsung, namun cuaca buruk menyulitkan proses penyelamatan.
Investigasi KalimantanInsight: Deforestasi & Tata Ruang Buruk Jadi Faktor Berulang
Tim KalimantanInsight melakukan penelusuran dan menemukan pola berulang dalam bencana di Sumatera:
- Deforestasi besar-besaran dalam 10 tahun terakhir
- Alih fungsi lahan tanpa perhitungan risiko
- Sedimentasi sungai yang dibiarkan bertahun-tahun
- Sistem peringatan dini yang tidak seragam di tiap daerah
Kombinasi faktor ini membuat bencana hidrometeorologi semakin mematikan, terutama ketika intensitas hujan meningkat akibat perubahan iklim global.
Pakar lingkungan menyebutkan bahwa tanpa pembenahan tata ruang dan pengawasan ketat, bencana seperti ini akan terus berulang.
Akses Bantuan Terhambat, Warga Menunggu Tindakan Cepat Pemerintah
Beberapa wilayah masih sulit dijangkau hingga kini. Relawan melaporkan bahwa:
perahu karet tidak mampu menembus arus deras,
jalur logistik terputus,
jaringan listrik di beberapa kecamatan mulai padam.
Warga berharap pemerintah pusat menambah personel, peralatan berat, dan mempercepat pembukaan jalur bantuan. Hujan diperkirakan masih akan turun dalam 48–72 jam ke depan.
Pemerintah Diminta Tidak Hanya Reaktif, Namun Preventif
Para pemerhati bencana menilai bahwa kebijakan penanganan bencana di Indonesia masih sangat reaktif. Fokus lebih banyak pada evakuasi dan penyaluran bantuan, bukan pada mitigasi risiko.
KalimantanInsight menilai bahwa bencana bertubi-tubi di Sumatera adalah alarm keras bagi pemerintah pusat untuk:
memperbaiki tata ruang,
menindak tegas pelanggaran lingkungan,
memperkuat early warning system,
dan memperbesar anggaran mitigasi di daerah rawan.
KalimantanInsight.com akan terus memantau situasi dan memberikan pembaruan terbaru dari lapangan.
