KalimantanInsight.com — Nama Bayu Fedra Abdullah kini menjadi perbincangan luas di kalangan komunitas teknologi dan keamanan siber, baik nasional maupun internasional. Pemuda asal Solo ini berhasil menembus panggung elite keamanan siber dunia dengan tampil sebagai pembicara pada dua ajang bergengsi internasional sepanjang tahun 2025, yakni di Riyadh, Arab Saudi, dan London, Inggris, dalam forum yang beririsan dengan ekosistem Black Hat, salah satu konferensi keamanan siber paling prestisius di dunia.

Prestasi tersebut menegaskan bahwa talenta lokal Indonesia memiliki kapasitas dan daya saing global. Bayu, yang tercatat sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sekaligus alumnus SMKN 2 Solo, mampu membawa inovasi teknis hasil pengembangannya sendiri ke hadapan komunitas keamanan siber internasional.

Dalam berbagai forum tersebut, Bayu mempresentasikan dua karya utama yang menjadi sorotan, yakni IPTI (Internet Protocol Threat Intelligence), sebuah sistem untuk mendeteksi dan memetakan ancaman jaringan berbasis analisis lalu lintas internet, serta MBPTL (Most Basic Penetration Testing Lab) yang dirancang sebagai media edukasi bagi peretas pemula untuk memahami dasar-dasar pengujian keamanan secara etis dan terstruktur.
Di balik pencapaian internasional tersebut, perjalanan karier Bayu terbilang inspiratif. Meski usianya baru menginjak 25 tahun, ia telah menempuh pengalaman profesional lebih dari satu dekade di bidang keamanan siber. Ia pernah menjabat sebagai Senior Security Engineer di perusahaan rintisan teknologi unicorn Indonesia, Ajaib, sebelum kemudian memilih berkarier secara global.
Saat ini, Bayu bekerja penuh waktu untuk sebuah perusahaan teknologi berbasis di Singapura dengan sistem kerja jarak jauh (remote). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keahlian di bidang keamanan siber memungkinkan profesional Indonesia berkontribusi langsung dalam pengamanan infrastruktur digital kelas dunia tanpa harus terikat pada lokasi kantor fisik.
Tidak hanya aktif di level internasional, Bayu juga berkontribusi bagi penguatan ekosistem keamanan siber nasional. Ia tercatat terlibat sebagai juri dan penyusun soal dalam berbagai kompetisi keamanan siber di Indonesia, termasuk kegiatan yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah seperti Kementerian Kesehatan. Peran tersebut menempatkannya tidak hanya sebagai praktisi, tetapi juga sebagai pendidik dan penggerak peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang keamanan digital.
Kisah Bayu Fedra Abdullah menjadi bukti konkret bahwa lulusan pendidikan vokasi dan generasi muda daerah mampu menjadi aset strategis bangsa di tengah meningkatnya ancaman siber global. Dengan kombinasi ketekunan, keahlian teknis yang spesifik, serta konsistensi berinovasi, talenta Indonesia dinilai semakin diperhitungkan dan diakui oleh komunitas teknologi internasional.
